Orientasi Perguruan Tinggi, Berbasis Riset atau Entrepreneurship?

Selama kurang lebih seminggu ini saya mengamati — tentu ini sekadar pengamat — apa dan mengapa perguruan tinggi swasta di Jawa yang secara perlahan terus menurun drastis. Dari data program studi non-teknik PTS ternama di Jawa Timur ini menunjukkan penurunan sangat drastis selama kurun waktu 10 tahun. Jika dihitung berdasarkan deret ukur, maka kurang dari 10 tahun berikutnya program studi di PTS tersebut tanpa mahasiswa. Beberapa waktu yang lalu pun PTS di Yogyakarta sudah “dijual” kepengelolaannya karena bangkrut.

Statistik Jumlah Mahasiswa dan Lulusan PTS di Jawa Timur. Sumber: evaluasi.dikti.go.id

Dari berbagai sumber, beberapa faktor yang mungkin menjadi sebab menurunnya jumlah mahasiswa PTS adalah:

  • Persaingan kompetitif. Di hampir seluruh daerah maupun kota di seluruh Indonesia telah berdiri PTS maupun PTN dengan berbagai program studi dan jenjang, seperti Politeknik dan Institut Negeri mulai hadir di Kalimantan, padahal kita tahu selama ini Kalimantan menjadi salah satu pemasok sejumlah besar mahasiswa di pulau Jawa.
  • Pemerintah memperluas kemampuan menerima mahasiswa dan meluluskan sarjana di bidang teknik, sains, dan pertanian. Bidang teknik menjadi perhatian khusus hingga 2015. Dengan begitu harapan dan peluang menjadi mahasiswa di bidang ini cukup besar.
  • PT yang sustainabilitasnya terjaga adalah yang berhasil dan konsisten menjaga kualitas dan memenuhi standar kebutuhan stakeholder.
  • PT besar dan ternama, terakreditasi, dengan fasilitas memadai dan dosen yang berkualitas saja belum cukup, tetapi perlu faktor lain yang harus dilibatkan.
  • Efek domino, sejumlah SMK saat ini telah berhasil merakit sejumlah karya nyata seperti laptop, mobil, hingga pesawat terbang — belum termasuk gedung tinggi, waduk, dan jembatan? Kemungkinan ini memicu sejumlah lulusan SMP tertarik melanjutkan ke SMK teknik, dan sejumlah lulusan SMK diprediksi akan melanjutkan ke perguruan tinggi teknik.
  • Krisis ekonomi masih menyentuh di berbagai pelosok daerah di luar Jawa. Sejumlah besar calon mahasiswa mencari perguruan tinggi terdekat dan hemat biaya, syukur-syukur ada beasiswa.
  • Ketersediaan dan kemudahan lapangan kerja di daerah terbuka lebar. Sejumlah besar mahasiswa yang bekerja berpeluang meningkatkan karir dengan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi di perguruan tinggi yang sesuai dan realistis.

Dengan beberapa faktor ini, kemungkinan di masa yang akan datang kelak ada 2 dikotomi orientasi perguruan tinggi, yaitu berbasis riset (High Learning University and Research University) dan entrepreneurship (Entrepreneurial University). Perguruan tinggi yang fokus di bidang riset, baik teknologi dan pengetahuan, pendidikan, dan kesehatan akan terus menjaga sustainaibilitasnya agar tidak kehilangan mahasiswa dan stakeholder serta terus meningkat.

Hal yang sama akan dilakukan perguruan tinggi berbasis entreprenurship yang mencetak lulusan yang mampu mandiri dan berwirausaha, dengan harapan mampu meningkatkan ekonomi kerakyatan dan pergerakan pasar lokal sehingga tercipta peluang kerja dan mampu menjadi bangsa mandiri yang tidak banyak tergantung pada negara asing. PTS berpeluang untuk fokus di orientasi ini.

Meski demikian, beberapa perguruan tinggi yang mampu saat ini telah menjalankan kedua orientasi tersebut ke dalam bentuk komunitas seperti Pusat Inkubator Bisnis ITB dan Community Entrepreneur Program (CEP) UGM. Kegiatan yang dijalankan komunitas ini seperti seminar, talkshow, short course, loka karya, workshop, praktek usaha, kerjasama usaha, Entrepreneurship Expo, Entrepreneurship Challange dan sebagainya.

Well… siap berkompetisi?

Referensi:
Pemerintah akan gandakan jumlah mahasiswa teknik
Strategi Perguruan Tinggi Mewujudkan Entrepreneurial Campus

Subur Anugerah

cuman wongkuto, bukan wongndeso, tapi suka gaya ndeso :-)